Aku sudah menikah dan mempunyai anak berumur 6,5 tahun yang tampan.
Dan aku sangat bangga dengan kedua orang yang paling aku kasihi itu.
Jen adalah istri dari adik sepupu istriku.. Cahyo.
Yang setelah bergelut dengan hutang-hutang yang menggunung.. akhirnya pasrah harus mendekam di penjara ketika dia menikam salahsatu penagih utangnya hingga tewas di ruang tamu rumahnya.
Itu cerita 1 setengah tahun yang lalu.
Sebelum ini.. aku selalu menganggap Jen hanyalah seorang adik sepupu ipar yang biasa saja.
Tak pernah terbersit sedikitpun pikiran-pikiran yang lain.
Aku adalah laki-laki 32 tahun yang taat dan setia. Aku sudah pernah bilang begitu bukan..?
Ketika suaminya menghabiskan 10 tahun hidupnya di balik terali besi.. Jen kembali ke rumah orangtuanya.
Sekitar 4 jam perjalanan naik kereta dari kota tempatku berada.
Dan hubungan kami nggak lebih dari sekedar SMS mengucapkan selamat lebaran.. tahun baru..
atau bertanya tentang anaknya.. atau dia yang bertanya tentang anakku. Keponakan kami. Itu saja.
Hingga 2 minggu yang lalu.. dia muncul di depan pintu rumahku. Masih sosok Jen yang lama.
Yang putih.. sedikit chubby dan penuh senyum.. seperti yang dulu aku lihat di pesta perkawinanku 8 tahun yang lalu.
Bedanya.. ada lingkaran hitam di sekitar matanya.. walaupun bedak tebalnya sedikit menutupi..
tapi masih juga terlihat kalau dia menghabiskan lebih banyak air mata dalam 1 setengah tahun terakhir ini.
Istriku berseru gembira melihatnya.
Mereka langsung tenggelam dalam obrolan khas wanita yang sudah lama tidak bertemu sementara Ryo.. anakku.. menuntun sepupu barunya Ken.. untuk mengagumi koleksi Bakugannya.
Terlalu sering ‘kecelakaan’ mengubah caraku memandang ibu muda ini.
Dua hari sudah Jen tinggal di rumahku.
Anaknya sudah menghilang di ujung gang dengan anakku untuk ngaji.
Sementara istriku sedang hot-hotnya ngerumpi di arisan ibu-ibu PKK di tempat Pak RT.
Dan aku.. disisakan dengan Jen yang sedang bersantai dengan celana pendek dan kaos oblongnya di karpet depan tv..
sibuk mondar-mandir mencari ‘kecelakaan-kecelakaan’ yang lain.
Ya.. kecelakaan.
Maksudku.. saat Jen tertidur dengan selimut terbuka.. atau saat dia berlari dari kamar mandi ke kamarnya dengan hanya terbungkus handuk..
Atau.. saat dia memakai celana senam yang ketat.. ketika kaos oblongnya tak sampai menutup sempurna daging yang menggembung di bawah perutnya.
Itu cuma sebuah ‘kecelakaan’ kan..?
Seperti sore ini.
Dengan setengah terlentang Jen menaikkan pahanya.. sehingga celana pendeknya.. sesuai hukum gravitasi.. bergulung alami menuju ke pangkal pahanya..
sementara aku sibuk mengagumi pahanya yang putih cemerlang dan celana dalam kremnya yang setipis kulit ari.
“Lagi nyari apa mas..?” Tanya Jen.. setengah melirik dari acara TV favoritnya.
Aku yang sudah keduabelas kalinya lewat di depannya.. berhenti dan menoleh.
Nyari celah vaginamu Jen.
“Nyari gunting kuku.”
Kataku.. setengah berpikir.. berharap Jen tidak tahu bahwa aku mengantongi benda kecil sialan itu.
Jen tak mengubah sikap kakinya.. membuatku takjub..
Karena.. dari tempat aku berdiri.. aku hampir yakin kalau aku bisa melihat jauh ke dalam lubang celananya.
“Gak liat tuh. Dah sini duduk samping Jen.. daritadi mondar-mandir aja bikin capek mata Jen..” Guraunya.
Aku nyengir sambil menjatuhkan badanku di sampingnya.
Parfumnya langsung mendebarkan jantungku begitu aku menarik nafas.
“Oke deh..”
Aku menyandar pada kaki sofa.. sementara Jen menggeser tubuhnya agar tidak menyenggolku.
Tegangan sudah 220 V di celanaku. Awas kesetrum Jen..
Aku menatapnya.
“Heran aku Jen.. kamu pake KB apa sih..? Kok dah punya anak masih gak berubah aja seperti dulu..”
Kataku.. setengah memuji dan setengah memancing. Menatapnya dari ujung kaki dan nyantel di sekitar celananya.
Jen menoleh ke arahku.
“Aku udah gak KB mas. Paling nanti kalo mas Cahyo dah keluar baru aku KB lagi..” Katanya.. perlahan.
Aku menghela napas lagi. Betul juga.. ngapain KB kalo gak ada suami..?
Akhirnya aku bertanya.. hati-hati.
“Kamu gak kesepian ditinggal Jen..?”
Jen.. tanpa mengalihkan tatapannya dari tv menjawab..
“Bangetlah mas. Tapi mesti gimana lagi..?” Desahnya.
Aku bisa melihat aura feromon seperti berpendar dari tubuhnya.. merasukiku.
“Cahyo jago yah di tempat tidur..?” Aku nyeletuk sekenanya.
Kali ini Jen menoleh ke arahku. Seperti tak percaya.. pertanyaan itu bisa keluar dari mulutku.
Seperti yang aku bilang di awal cerita.. aku adalah lelaki 32 tahun yang taat dan setia.
Semua orang tahu itu.. termasuk Jen.
“Apa hubungannya mas..?” Tanya jen.. mengerutkan alisnya yang lentik.
“Ya.. pengen tau aja..” Jawabku. “Buat referensi aja Jen.. hehehe..”
Jen tersenyum.
“Aku tau kok apa yang ada dalam pikiran mas Johan..” Katanya.
Dia meluruskan kakinya.. menata ujung-ujung jarinya sambil berkata setengah menerawang.
“Aku seorang istri yang sudah 1,5 tahun tidak mendapat nafkah dari suamiku.
Dan Mas Johan berharap untuk mendapat sedikit kesempatan dari itu. Iya kan mas..?”
Dia bertanya sambil menoleh ke arahku.
Seratus.. untuk Jen..!
Sumpah.. dia seksi sekali.
Bibirnya yang tipis merekah pink.. sementara kedua pipinya sedikit merona dan matanya dalam balutan contact lens biru.. mengarah sekitar 10 senti di depan mukaku.
Seolah menghiba perhatianku.
Ah.. kepalang tanggung.. toh istriku masih asyik dengan gosip-gosip terbarunya.. pikirku.
Melirik sebentar ke Celana Boxerku yang menyempit.. aku mengangguk.
“Kalo iya gimana Jen..?” Tantangku.
Jen.. membasahi bibirnya sedikit.. lalu tersenyum manis.
“Nina pulang jam berapa..?” Bisiknya serak.
Itu sudah cukup buatku sebagai sebuah persetujuan.
Aku menerkamnya seperti singa.. dan langsung memagut bibirnya yang menggairahkan itu dengan buas.
Jen mendesah.. menjejalkan aroma mulutnya ke kerongkonganku.. dan seperti ganja.. segera membius kesadaranku.
Kami bergulat.. sampai aku sendiri nggak tahu kapan aku sudah melepaskan bajuku dan dia melepaskan bajunya.
Aku memuja tubuh yang tadinya cuma bisa aku puja dengan mata.. dengan bibirku.
Setiap inci.. tak terlewatkan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sementara Jen cuma bisa terengah-engah.. mendesah.. mengerang dan merintih.
Oh Tuhan.. bagaimana mungkin payudara bisa sekenyal dan selembut ini..
Bibirku serasa terbakar mengelomotinya..
Aku mencopot dengan tergesa seluruh kain yang menempel di tubuhnya dan menatapnya takjub.
Tubuhnya yang putih cemerlang itu kini telanjang di hadapanku.. Pikirku.
Aku memuaskan mataku akan ketelanjangan yang terkangkang di depanku.. saat aku berdiri untuk menanggalkan kain terakhir dari bawah pinggulku.
This is it. The point of no return..
Aku menatap Jen. Tubuh yang sempurna..
Payudara yang padat dan kencang.. pinggang yang ramping.. dan..
Benarkah itu vagina..? bisikku.
Tak ada vagina yang seindah ini.. pujiku.
Begitu gemuk.. begitu bersih.. dan begitu basah..
Aku bisa melihat lipatannya yang tanpa kerut.. dan celah kecil yang nyaris tak terlihat..
Yang seolah menampar ingatanku untuk berseru nyaring..
Hei Jo.. dia dulu Cesar.. dan kau adalah laki-laki kedua yang akan merasakan kehangatan vagina yang belum pernah tersentuh oleh bayi itu Jo..!
Dengan pikiran itu saja cukup membuat penisku ereksi lebih keras dari yang pernah aku alami sepanjang hidupku.
Aku memposisikan pinggulku di atasnya.
Ah.. Jen.. my beloved Jen.. Benarkah ini sedang terjadi..?
Mataku menatap matanya.. ketika penisku perlahan tenggelam ke dalam vagina sempitnya.
Oh.. demi para dokter yang menemukan bedah cesar.. maafkan aku istriku.. tapi vaginamu nggak mungkin akan bisa lebih nikmat dari ini.. bisikku tanpa suara.
Slebbh..!
Dan seperti lilitan sutra licin yang hangat dan berdenyut.. aku merasakan detik-demi detik ketika Vagina Jen menelan habis penisku.
“Massss..” Bisik Jen.
Dia sedikit mengerang ketika merasakan rahimnya diketuk pelan oleh kepala penisku.
“Ya.. Jen..?” Kataku.
“Udah jam 4..” Kata Jen sambil terpejam.
Hempasan pelanku membuatnya tak mampu membuka mata.
O’o.. sebentar lagi istriku pulang.. mungkin bahkan sudah setengah perjalanan ke mari.
“Akan aku ganti keegoisanku hari ini Jen.. tapi waktu sedang tidak memihak kita..” Bisikku perlahan.
Clebbh.. clebbh.. clebbh.. clebbh.. clebbh..
Segera kugempur liang nikmat vagina dengan kecepatan tinggi.. memacu pinggulku seolah tak ada lagi hari esok..
Menikmati vagina yang bukan istriku.. yang begitu nikmat..
Yang membuatku nyaris pingsan oleh rasanya yang sungguh-sungguh dahsyat..
Yang sungguh-sungguh menakjubkan..
Yang sungguh-sungguh tak terkira.. ketika pada hempasan yang paling cuma ke 50 atau 60.. telah meledakkanku ke ujung galaksi bimasakti yang terjauh.
“Ya ampun Jen.. memekmu enaaakkk bangeeet.. akhhhhk.. aku nggak kuaaaaatttthh..”
Crett.. crett.. crett.. crett..
Kubanjiri rahimnya dengan semprotan spermaku.
Jen yang sedang mengawang-awang meloncat.. melepaskan diri dan terpekik kaget sambil menahan suaranya.
“Aku gak KB mas..!”
Plop..! Dia mendorong pinggulku dari selangkangannya.
Tapi terlambat.. gelombang besar pertama sudah terlanjur masuk..
Sedangkan sisanya berceceran di karpet akibat gerakannya.
Ahh.. kau mengganggu orgasmeku Jen.
Aku menatap batang penisku yang masih berkedut-kedut.. mengeluarkan isinya..
Tak percaya kalo seks bisa demikian memukaunya..
Sementara Jen.. bergegas memunguti pakaiannya dan berlari ke kamar mandi.
“Aku bisa hamil tau..!” Ucapnya marah.
Aku.. masih terhanyut oleh kenikmatan itu dan cuma bisa mendesah. Luar biasa.. luar biasa..
Dan kemudian..
“Ah Jen.. lihat karpetnya.. aku ngomong apa sama Nina nanti dong..?”
Dan begitulah. Affairku dengan Jen dimulai.
Sungguh.. aku adalah lelaki 32 tahun yang taat dan setia.
Tapi kalo ini tentang Jen.. aku harus bilang bahwa Jen.. my beloved Jen.. KAMU SUNGGUH NIKMAT..
No comments:
Post a Comment